Gage Batubara posted a photo:

Dinamakan pohon Kepel karena buah dari pohon ini selalu berkelompok/bersatu dan hampir seperti kepalan tangan. Pohon ini dapat dikategorikan pohon yang hampir punah padahal dulu sering dijumpai di halaman keraton Yogyakarta. Konon buah kepel ini berkhasiat untuk menghilangkan bau-bauan disekitar selangkangan putri-putri kerajaan Mataram. Saya belum pernah mencium putri-putri Mataram jadi belum tahu apakah ini berkhasiat atau tidak. Mungkin sampean mau mencobanya?
Gage Batubara posted a photo:

Walk together rock together!
Gage Batubara posted a photo:

Orang bilang lelaki sejati tak perlu mobil mewah untuk menaklukkan seorang wanita. Cukup dengan gitar (meskipun pinjaman teman kos) bernyanyilah dihadapannya!
Semoga beruntung..
Gage Batubara posted a photo:

Gage Batubara posted a photo:

Gage Batubara posted a photo:

Perjalanan pulang ke Jogja tadi sore sangat melelahkan. Semestinya penerbangan itu cukup dengan rute Jakarta - Jogja, tapi kami harus menempuh rute Jakarta - Hampir Jogja - Jakarta - akhirnya Jogja. Alhasil kuping saya masih berdengung hingga foto ini saya kirim.
Gage Batubara posted a photo:

Mereka adalah gambaran generasi penerus di pinggiran ibukota. Tak berpendidikan, pola pikir materi tapi mereka tidak pantang menyerah untuk menghidupi keluarga dan dirinya sendiri. Lantas, dengan generasi seperti ini siapa yang akan mengurusi pinggiran ibukota yang semakin tak terurus dan akan tenggelam ini?
Sunda Kelapa, 2010
Gage Batubara posted a photo:

Roro Blonyo is a pair of masculine and feminine idols originated from East Java and Central Java exemplifying prosperity or harmony in matrimony. the dissimilarity between East Java's Roro Blonyo and Central Java's Roro Blonyo lays on the physique and the engravings.
In East Java, The shape of the idol is plainer for it is crafted by common people, whereas in Central Java, the shape is more complex and glorious because it is meant for high rank peoples (royal family).
To brings prosperity about, this idol must be worshiped. If used for symbolizing harmony in matrimony, the masculine idol is put on the right side, while the feminine is on the left side of the bed. Along with the progression of time, people do not use the idols as the original function but it is not more than adornment liked by western people.
petranet
Gage Batubara posted a photo:

Anda bisa menemuinya di sepanjang jalan Malioboro. Tak perlu mengkocek uang banyak Anda bisa menyantapnya sambil sampai puas.
Untuk sate yang saya foto ini, cukup khusus karena tiap tahunnya dia selalu mangkal di dekat pintu masuk pasar rakyat Sekaten (Alun-alun utara, Yogyakarta).
Cobalah membelinya sambil menyantapnya di pinggir jalan. Anda akan merasakan sebuah kesederhanaan yang disajikan Yogyakarta.